9/05/2011
0

disanalah aku dan adik-adikku di besarkan oleh kedua orang tuaku yang miskin. rumah reot, ya begitulah kata yang tepat untuk menggammbarkan kondisi rumah kami. dirumah itu pula tinggalah adik-adikku, bapak dan ibuku bukanlah. dulu ketika aku masih duduk di bangku kelas 5 SD aku harus merasakan betapa beratnya tanggung jawab seaorang kakak (aku anak sulung), harus menggantika posisi ibu untuk mengurus adik-adikku yang waktu itu masih kecil-kecil.


ibuku pergi menjadi seorang TKI ke negri jiran, usiaku yang masih anak-anak belum bisa menangkap cita-cta ibuku ketika itu sampai sampai ia memutuskan untuk menjadi TKI dan meninggalkan anak-anak dan suaminya. sungguh beban berat untuk aku yang masih anak-anak.

setiap hari sebelum berangkat sekolah aku harus membantu bapakku menyiapkan sarapan untuk adik-adiku, dan kemudian berangkat sekolah dengan berjalan kaki dan memiliki jarak tempuh 1km.

tulisan ini tidak sedikitpun aku rekayasa, semua yang ku tulis adalah apa yang aku alami, itulah perjalanan hidup yang harus aku lintasi dengan ikhlas.


didalam rumah reot itu setiap malam adik-adiku belajar dengan beralaskan tiker kumuh untuk belajar, mereka dengan setia mempelajari pelajarany yang diperoleh dari sekolah dengan penerangan lampu minyak tanah karena bapak tak sanggup membayar listrik jika menyambung dari tetangga.

di usiaku yang seharusnya masih banyak-banyak bermain, harus berfikir keras untuk mengurus adik-adiku, aku dipaksa dewasa oleh keadaan. aku harus mendidik mereka, aku harus membantu bapakku untuk itu semua.

namun, aku bangga ketika melihat adik-adikku semua mendapatkan prestasi diseklahnya,meskipun kami hanya tinggal dirumahh reot yang lebih pantas untuk kandang sapi, tapi adik-adikku memiliki semangat luar biasa.

tidak jarang aku mengumpat kepada Tuhan.." YaTuhan..Kapan engkau berikan kami rizki untuk memperbaiki rumah kami?.. apakah engkau tak peduli lagi dengan kami wahai TUHAN..!!" ketika aku benar-benar lelah, lelah menghadapi keadaan, lelah mengatur strategi agar aku bisa terus melanjutkan cita-citaku.

dan sesungguhnya  Tuhan sangat peduli kepada mahklunknya. hanya saja ia menunda apa yang mahluknya inginkan.

kini adik-adikku telah tumbuh besar, mereka memiliki mimpi dan tekad yang sama besarnya dengan ku, mereka mengingikan terus dapat sekolah setinggi-tingginya, apapun caranya. bukan kami memaksakan kehendak, namun kami sadar bahwa bapak dan ibuku tak mampu membiyayai kami untuk kuliah. namu aku dan adik-adikku harus tetap bisa,....apapun caranya.

Alhamdulliah kini aku telah menyelesaikan pendidikan disalah satu kampus suasta dilampung, dan adiku kedua ku sedang sibuk  mengurus mimpinya untuk bekerja dan sekolah dijepang dibantu oleh anggota dewan didaerah kami..(semoga keinginanya terwujud), dan adik ketigaku perempuan, ia sedang sibuk mengurus mimpinya bekerja dan membiayai kuliahnya sendiri tanpa harus merepotkan orang tua..

dan untuk adikku yang ketiga dan ke empat(kembar) semoga kelak kalian pun bisa seperti kakaknya.

kesadaranku dan adiku bahwa tinggal dirumah reot dengan kondisi miskin tak membuat kami lantas putus asa, justru itulah motivasi terbesar kami dengan berbekal doa orang tua..

0 komentar:

Post a Comment