10/17/2012
0
kondisi merupakan perintah yang digunakan untuk melakukan pengecekan suatu kondisi apabila kondisi tersebut dipenuhi, maka akan melakukan proses selanjutnya.
Dalam kehidupan sehari – hari terkadang banyak kasus yang penyelesaiannya membutuhkan sebuah kondisi tertentu. Misalnya jika total pembelian lebih dari Rp. 100.000 makan mendapatkan diskon sebesar 10%. Dalam hal ini permasalahan cukup mudah dipecahkan karena hanya menggunakan sebuah kondisi.

Pada kasus yang lain mungkin saja permasalahan menjadi lebih kompleks dengan kondisi lebih dari satu. Untuk menyelesaikan permasalahan semacam ini, Delphi telah menyediakan beberapa fungsi.
Kondisi

1. IF ..... Then

IF adalah sebuah perintah untuk menyatakan sebuah kondisi. Perintah ini akan menghasilkan nilai TRUE jika kondisi yang dimasukkan ternyata benar, dan sebaliknya akan menghasilkan FALSE jika kondisi yang dimasukkan ternyata salah.
Format penulisan IF adalah :


IF (kondisi) THEN (perintah
Perintah akan dijalankan jika kondisi bernilai benar atau TRUE. Sedangkan jika kondisi salah, maka perintah tidak dijalankan dan Delphi akan menjalankan baris program berikutnya (jika ada).

Jika perintah yang diketikkan didalam kondisi IF lebih dari 1 baris, maka programmer wajib menuliskan perintah Begin dan End; pada awal & ahir kode program sebagai penanda awal perintah dan ahir perintah.
Sebagai contoh kasus pada permasalahan diatas yaitu jika total belanja lebih dari Rp. 100.000 maka mendapatkan diskon sebesar 10%. Jika total belanja ternyata kurang dari Rp. 100.000 maka tidak mendapatkan diskon. Jika diterjemahkan kedalam bahasa Delphi maka perintah nya akan menjadi seperti dibawah ini :


IF total >= 100000 THEN diskon := total * 0.1;

IF … THEN … ELSE …

Terkadang adakalanya perlu untuk meng-handle juga jika ternyata kondisi yang terjadi adalah FALSE. Jika perintah pada bagian THEN dijalankan ketika kondisi bernilai TRUE, maka kondisi pada bagian ELSE dikerjakan ketika kondisi bernilai FALSE. Jadi dalam sekali waktu, Delphi hanya akan menjalankan salah satu dari kedua kondisi diatas.
Format penulisannya :



IF (kondisi) THEN
   
ELSE
  
Jika perintah yang diketikkan didalam kondisi IF atau ELSE lebih dari 1 baris, maka programmer wajib menuliskan perintah Begin dan End; pada awal & ahir kode program sebagai penanda awal perintah dan ahir perintah.
Contoh kasus nya, jika nilai lebih dari 60 maka statusnya dinyatakan LULUS dan sebaliknya jika nilai kurang dari 60 maka statusnya dinyatakan GAGAL. Jika kasus diatas diterjemahkan kedalam bahasa Delphi maka penulisannya akan menjadi seperti berikut :



IF nilai > 60 THEN
BEGIN 
  Status := ‘LULUS’;
  Showmessage (Status);
END
ELSE
  Status := ‘GAGAL’;

NESTED IF

Nested IF (IF bersarang) adalah jika ada perintah IF didalam perintah IF yang lain. Kondisi ini dibutuhkan ketika kriteria yang dimasukkan lebih dari 2. Prinsip dasarnya tetap menggunakan IF … THEN … ELSE … yaitu Delphi hanya akan mengerjakan salah satu perintah sesuai dengan hasil dari kondisi yang ditemukan (mengerjakan bagian THEN jika kondisi TRUE atau mengerjakan bagian ELSE jika kondisi salah). Penulisannya dalam bahasa Delphi adalah :

IF (kondisi1) THEN
   
ELSE
  IF (kondisi2) THEN
     
   ELSE
      IF (kondisi3) THEN
         
      ELSE
         
      END
   END
END;
Penjelasan :
Jika kondisi1 bernilai FALSE, maka Delphi akan menjalankan bagian ELSE. Pada bagian ELSE terdapat IF dengan kondisi2. Jika kondisi 2 bernilai FALSE, maka Delphi akan menjalankan bagian ELSE dan seterusnya. Jika kondisi2 bernilai TRUE maka Delphi akan menjalankan bagian THEN kemudian langsung keluar dari IF (END) tanpa mengerjakan bagian ELSE sehingga kondisi3 tidak pernah tersentuh.
Jika perintah yang diketikkan didalam kondisi IF lebih dari 1 baris, maka programmer wajib menuliskan perintah Begin dan End; pada awal & ahir kode program sebagai penanda awal perintah dan ahir perintah.

Contoh kasus jika nilai lebih dari 80 maka grade = A, jika nilai 60 s/d 79 maka grade = B, jika nilai 60 s/d 79 kurang dari 59 maka grade = C. Jika kasus diatas diterjemahkan kedalam bahasa Delphi maka penulisannya akan menjadi seperti berikut :

IF nilai >= 80 THEN
  grade := ‘A’
ELSE
  IF nilai >= 60 THEN
    grade := ‘B’
  ELSE
    grade := ‘C’
  END;
END;
Penjelasan :
Jika nilai berisi lebih dari atau sama dengan 80 maka grade akan berisi A.
Jika nilai berisi lebih dari atau sama dengan 60, maka grade akan berisi B (karena pada IF pertama dinyatakan FALSE sehingga menjalankan bagian ELSE)
Jika nilai berisi kurang dari 60, mak agrade akan berisi C (karena pada IF pertama & IF kedua dinyatakan FALSE sehingga menjalankan bagian ELSE)
Banyaknya IF yang ada di dalam IF tidak terbatas. Yang perlu di perhatikan adalah meskipun pada Delphi proses dikerjakan berdasarkan event yang terjadi (event driven programming) tetapi kode program yang ada di dalam procedure (event) tetap dikerjakan secara sequential (berurutan).

CASE … OF

Statement (perintah) CASE diciptakan untuk mempermudah statement NESTED IF diatas. Pada dasarnya cara kerja statement CASE sama dengan NESTED IF (sequential) tetapi dengan format penulisan yang berbeda sehingga lebih memudahkan programmer.


CASE variabel OF
  Nilai1 : …
  Nilai2 : …
  Dst
ELSE
  
END;
Jika contoh kasus pada NESTED IF diatas diterjemahkan kedalam CASE maka formatnya akan menjadi seperti berikut ini :

CASE nilai OF
  80 .. 100 : grade := ‘A’;
  60 .. 79 : grade := ‘B’;
ELSE
  Grade := ‘C’;
END;


untuk lebih jalasnya silahkan lihat contoh mengunakan perintah kondisi pada delphi

sumber

0 komentar:

Post a Comment